Anggapan Negatif Game Berubah Setelah eSports Jadi Cabor Asian Games

Anggapan Negatif Game Berubah Setelah eSports Jadi Cabor Asian Games - Kompetisi eSports yang bakal dipertandingkan kesatu kalinya di Asian Games 2018 bertolak belakang dengan pertandingan olahraga pada umumnya. Ekshibisi pertandingan eSport menjadi tahapan besar, lantaran tak sekedarmemperhitungkan medali namun mengolah paradigma soal gim.


Harry Kartono Consumer Lead Indonesia Nvidia menuliskan masuknya eSports sebagai cabang olahraga yang diperlombakan akan mengolah paradigma gim di Indonesia yang sebatas candu guna bersenang-senang.

Berdasarkan keterangan dari Harry citra gim di Indonesia masih buruk karena dirasakan memberikan efek candu untuk pelajar sehingga edukasi mereka terbengkalai. Kali ini, gim dapat menghasilkan sesuatu guna dijadikan profesi di masa depan. Tidak melulu sebagai atlet eSports, tapi pun profesi yang sehubungan dengan industri gim.


"Lima tahun lalu barangkali gim tidak dapat jadi pekerjaan. Kalau kini saya pikir bisa, dapat jadi game maker atau game programmer, tidak saja jadi atlet. Esport tidak jauh dari teknologi, tersebut salah satu keunggulan mereka tersebut mau tidak inginkan harus tahu teknologi. Sehingga nantinya bila mereka tidak sukses di eSports. Pengetahuan teknologinya tinggi," kata Harry di area Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, Selasa (24/7).

Harry mengatakan persaingan ini tak ubahnya teguran untuk stakeholder untuk meluangkan infrastruktur penyokong yang mencukupi untuk menggali bibit-bibit atlet potensial. eSports mesti didukung supaya Indonesia  dapat menjadi negara unggulan dalam Asian Games 2022 di mana cabang olahaga eSports telah masuk perhitungan medali.

"Kami menciptakan tempat pelajaran berupa iCafe yang disertifikasi oleh Nvidia guna eSports yang didukung dengan spesifikasi tinggi cocok dengan taraf eSports internasional. Karena kan belum pasti mereka punya duit untuk membina komputer dengan harga Rp40 juta guna berlatih eSports dengan benar," kata Harry.

Di samping menyiapkan lokasi berlatih, Harry menuliskan Nvidia satu tahun sekali mengadakan persaingan gim amatir antara iCafe. Hal ini dilaksanakan untuk menggali potensi bibit-bibit di sekian banyak  daerah, untuk tersebut Nvidia menyebar iCafe supaya tidak terpusat di satu wilayah saja.

"Kalau menang kami bakal daftarkan ke persaingan Asia Tenggara. Mewadahi mereka pun dan kelasnya tersebut amatir saja, jadi pertandingannya atar Geforce iCafe. Kami tumbuhkan bibit bibit lokal dulu," ujarnya.

Dalam peluang sama, empunya Geforce GTX iCafe "Highground" Diana Tjong menuliskan dengan adanya lokasi berlatih yang terstruktur dan formal ini merubah pandangan orang tua mengenai gim. Diana menuliskan gim dulu di anggap negatif, bahkan dulu dirinya pun memandang gim tersebut buruk.

"Dulu saya pikir image gamer buruk. Tapi kesudahannya kita menggali solusi anda mewadahi lokasi untuk berbenah dan mendidik guna merubah paradigma gim. Gim di sini tidak melulu untuk bermain namun untuk menghasilkan sesuatu. Di sini kami mengupayakan untuk berbaikan dengan orang tua," ujar Diana.

Diana menuliskan tempat berlatih ini mempunyai program bootcamp arahan Nvidia sehingga dapat dijadikan lokasi persiapan semua atlet atau calon atlet eSports. Di tempatnya, Diana menuliskan menyediakan 100 komputer, 12 unit komputer guna zona eSports dengan graphic card GTX 1070, 12 unit komputer dengan GTX 1060, dan 76 unit GTX 1050/ti. Pengguna tinggal menunaikan Rp20 ribu per satu jam guna bermain di Highground.

Beberapa ketentuan ketat pun diterapkan di Highground, salah satunya ialah menjaga lingkungan gim supaya tidak "beracun" dengan adanya pemakaian kasar. Di samping itu, untuk para pelajar berseragam pun dilarang guna menggunakan kemudahan Highground.

"iCafe ini ramah guna anak-anak, laksana bebas asap rokok, kami tidak mengizinkan anak sekolah berseragam main, kami pun melarang omongan kasar di sini, kita memberi batas orang-orang yang berkata kasar. Kami mendidik anak-anak kita guna mereka dapat menghormati orang-orang di dekat bahwa mereka bermain di ruang publik," ujar Diana

Diana menuliskan sudah menyaksikan bahwa terjadi pergeseran paradigma tentan gim di Highground. Pada akhir pekan, ia menyaksikan di tempatnya tidak sedikit orang tua mengantar anaknya guna bermain gim atau guna berlatih.

"Pada akhir pekan orang tua yang pun yang mengantar anak-anaknya guna bermain gim di sini, jadi saat mereka bermain, orang tuanya santap di cafe. Ada yang sebelumnya main gim disuruh buat pekerjaan lokasi tinggal dulu bareng orang tuanya. Setelah selesai, orang tuanya menantikan di cafe, anaknya bermain gim," ujar Diana.

Sekian artikel saya tentang Anggapan Negatif Game Berubah Setelah eSports Jadi Cabor Asian Games  semoga artikel ini bisa bermanfaat.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Anggapan Negatif Game Berubah Setelah eSports Jadi Cabor Asian Games"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel